KARAKTERISTIK MASYARAKAT PLURAL & KAJIAN POLITIK ETNIS

A)     KARAKTERISTIK MASYARAKAT PLURAL

Pluralisme merujuk kepada suatu bentuk integrasi yang sering dirujuk sebagai proses “perpaduan dalam kepelbagaian” dimana kepelbagaian dilihat sebagai suatu kekuatan bagi sebuah negara yang memilikinya.

 

PLURALITI  (MASYARAKAT ALAM MELAYUDALAM SEJARAH)

Konsep Plural & Pluraliti

  • Plural – lebih daripada satu
  • Pluraliti – Keadaan lebih daripada satu; terdiri daripada dua atau lebih perkara dari jenis yang sama.

(http://onlinedictionary.datasegment.com/word/plurality)

Pluraliti Di Alam Melayu(Zaman Pra-Penjajahan)

  • Pada zaman pra-penjajahan, masyarakat di Alam Melayu terdiri daripada beberapa suku kaum berbangsa Melayu berkulit sawa matang (termasuk Melayu, Jawa, Bugis, Minang, Batak, Dayak (Iban), Dusun, Kelabit, Melanau, Bidayuh, Kadazan, dll).
  • Semuanya suku kaum Melayu ini tergolong ke dalam sub-kategori ras Mongolion
  • Disebabkan suku kaum ini masing-masing mempunyai ciri sub-budaya yang agak distingtif, maka secara umumnya kita boleh katakan masyarakat di Alam Melayu pada zaman pra-penjajahan menampakkan ciri pluraliti (iaitu lebih daripada satu jenis dari rumpun yang sama)
  • Namun demikian, semua suku kaum ini hanya berkongsi wilayah (iaitu wilayah dunia Melayu) tetapi tidak bernaung di bawah satu unit politik yang sama.
  • Kedatangan pengaruh agama dari luar (Hindu-Buddha,Islam dan kemudiannya Kristian) mencorakkan perubahan budaya dan sekaligus memberi takrifan baru terhadap identiti suku kaum di Alam Melayu serta meningkatkan pluraliti budaya di kalangan mereka.
  • Contohnya, agama Islam menjadi pentakrif utama konsep Melayu dan juga menjadi teras budaya Melayu. Begitu juga agama Hindu menjadi pentakrif dan teras masyarakat dan budaya Bali.
  • Terdapat kelompok dari keturunan Cina, dan India yang berasimilasi dengan budaya tempatan seperti kelompok Baba-Nyonya (berketurunan Cina) dan kelompok Chitty (berketurunan India).
  • Kelompok yang berasimilasi dengan budaya tempatan (seperti Baba dan Nyonya) serta mereka yang berdarah campuran ini ramai terdapat di kota-kota kosmopolitan ketika itu, contohnya Melaka, Pulau Pinang dan Singapura.
  • Kota-kota perdagangan seperti Melaka ini menjadi tempat pertembungan budaya, pinjam meminjam tret budaya, proses difusi, akuturasi, asimilasi dan amalgamasi (terutamanya melalui perkahwinan campuran)
  • Apabila berlaku perkahwinan antara orang asing dengan penduduk tempatan, maka wujud beberapa sub-kategori penduduk berdarah campuran seperti kelompok Peranakan (DKK & DKC), kelompok Syed, dll.
  • Kini, tidak kurang penduduk Malaysia mempunyai darah kacukan (Melayu-Arab, Melayu-India, Melayu-Cina dll)

 

MASYARAKAT PLURAL

Konsep masyarakat plural ini dikemukakan oleh J.S Furnivall kira-kira 60 tahun yang lalu.

Mengikut beliau masyarakat majmuk wujud apabila, ‘two or more elements or social orders which live side by side, yet without mingling, in one political unit – dua atau lebih unsur atau peraturan sosial wujud beriringan tapi tanpa bercampur dalam satu unit politik”

(Furnival, 1939)

A plural society is one whose population is divided into two or more sub-populations, whose members deploy, in each case, distinctive sets of values and assumptions to order their domestic and personal lives

            (Masyarakat plural adalah masyarakat yang penduduknya terdiri daripada dua atau lebih sub-penduduk (kelompok), di mana anggota dalam setiap sub-kelompok tersebut mempunyai rangkap nilai dan juga tanggapan yang distingtif bagi mengatur kehidupan domestik dan peribadi mereka). (Roger Ballard: http://www.casas.org.uk)

CIRI-CIRI MASYARAKAT PLURAL

  • Ethnisiti dan perbedaan etnik merupakan ciri utama masyarakat majemuk.
  • Setiap kelompok etnik mengamalkan budaya masing-masing (termasuk agama, bahasa, adat resam dll)
  • Secara teorinya trend budaya satu-satu kelompok etnik itu tidak bercampur aduk dengan trend budaya kelompok etnik lain walaupun sedikit sebanyak berlaku pinjam meminjam budaya (cultural borrowing).
  • Semua kelompok etnik yang berbeda itu berhubungan dan berkerjasama antara satu sama lain dalam bidang ekonomi, politik, sosial, dll, dengan masing-masing mempunyai serta menjaga kepentingan tersendiri.
  • Semua kelompok etnik menjadi warganegara serta mendukung undang-undang negara yang sama.

 

B)     KAJIAN POLITIK ETNIK

Definisi Kelompok etnik

Dalam buku-buku Antropologi (misalnya Naroll 1964), umumnya kelompok etnik dikenal sebagai suatu populasi yang:

  1. Secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan.
  2. Mempunyai nilai-nilai budaya yang sama dan sadar akan rasa kebersamaan dalam suatu bentuk budaya.
  3. Membentuk jaringan interaksi dan komunikasi sendiri.
  4. Menentukan ciri kelompoknya sendiri yang diterima oleh kelompok lain dan dapat dibedakan dari kelompok populasi lain.

 

Mengambil dari wikipedia, kelompok etnik adalah:

Kelompok etnik ialah kelompok manusia yang anggotanya mengaitkan diri melalui sesuatu warisan sepunya, baik warisan yang benar mahupun yang dianggap. Identiti etnik dipupuk dengan membezakan kelompok diri daripada kelompok yang lain menerusi sifat-sifat seperti budaya, bahasa, agama, dan tingkah laku. Proses yang melahirkan pengenalpastian sebegini dikenali sebagai etnogenesis.

Keetnikan ialah satu cara yang penting bagi manusia mengaitkan diri. Menurut sidang “Cabaran Mengukur Sebuah Dunia Etnik: Sains, Politik, dan Kenyataan” yang dianjurkan bersama-sama oleh Statistik Kanada dan Biro Banci Amerika Syarikat (1-3 April 1992), “Keetnikan ialah faktor asas dalam kehidupan manusia: ia merupakan fenomena yang sebati dalam pengalaman manusia”.

Bagaimanapun, banyak ahli sains sosial seperti ahli antropologi Fredrik Barth dan Eric Wolf tidak menganggap identiti etnik sebagai sejagat. Sebaliknya, mereka mendakwa bahawa keetnikan merupakan satu hasil daripada jenis interaksi antara kelompok yang tertentu, bukan satu sifat sebati yang asas dalam kelompok manusia. Pada keseluruhannya, anggota sesebuah kelompok etnik mendakwa kesinambungan budaya melalui masa. Sungguhpun demikian, ahli sejarah dan ahli antropologi budaya telah memerhati bahawa seringnya, banyak daripada nilai, amalan, dan norma yang dikatakan membayangkan kesinambungan dengan zaman lampau sebenarnya merupakan suatu rekaan yang agak baru.

 

MASYARAKAT PLURAL DALAM KAJIAN POLITIK ETNIK

Bidang yang paling menampakkan adanya perpaduan antara masyarakat plural dalam kajian politik etnik adalah dalam bidang politik. Banyak sisi perpolitikan kita yang memperlihatkan kaum minoritas dan mayoritas. Perbedaan itu ditujukan oleh perbedaan kesukuan. Indonesia memang terdiri dari ratusan suku bangsa.

Kita ambil salah satu contonya di bidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) daerah yang paling banyak menampilkan perwakilannya adalah dari suku Jawa. Berbagai hal dapat menjadi alasan persepsi ini. Karena faktor memang banyak para pemimpin atau perwakilan birokrasi dari jaman kerajaan sampai pemerintahan penjajah Hindia-Belanda adalah orang Jawa.

Hal ini semakin menunjukkan sebuah jurang perbedaan ataupun ketimpangan antar suku. Dari jaman Hindu-Budha suku Jawa memang sudaah terlihat terdepan atau lebih unggul dibanding suku-suku lain. Alasan lain adalah karena dalam bidang pendidikan, dipulau Jawa memang lebih unggul. Dan dipulau Jawa adalah pusat pemerintahan bangsa kita.

Contoh lain adalah dalam hal pemimpin bangsa yaitu presiden dari Sukarno sampai SBY, semua adalah orang dari suku Jawa. Untuk contoh ini, alasan terkuat namun tidak dapat dibenarkan muncul ditengah masyarakat. Adanya mitos bahwa Presiden bangsa kita haruslah orang Jawa. Nampak tidak relevan dengan zaman sekarang yang sudah modern. Kenapa mitos tersebut terus tumbuh ditengah masyarakat Indonesia.

Di Indonesia saat ini, terdapat kebudayaan politik yang berkembang di masyarakat. Budaya Politik Hirarki yang Tegar. Titik tolak dari budaya ini adalah sebuah pola budaya yang dominan, yang berasal dari kelompok etnis  yang dominan pula yaitu kelompok etnis jawa. Secara lebih spesifik budaya dijabarkan sebagai sebuah anggapan yang berkembang di masyarakat, khususnya dikalangan birokrat. Dimana para birokrat sering kali menampakkan diri dengan self-image atau citra-diri yang bersifat benevolent, yaitu dengan ungkapan sebagai pamong praja yang melindungi rakyat, sebagai pamong atau guru/pendidik bagi rakyatnya. Kalangan ppenguasa harus menampakkan diri sebagai kelompok yang pemurah, baik hati, dan pelindung dari seluruh rakyatnya. Akan tetapi, sebaliknya, kalangan penguasa memiliki persepsi yang merendahkan rakyat. Karena penguasa sudah begitu baik hati maka selayaknya rakyat harus patuh dan melayani rakyat. Menurut analisis Anderson, konsep tentang kekuasaan dalam masyarakat jawa berbeda sekali dengan apa yang dipahami oleh masyarakat barat. Karena bagi masyarakat jawa kekuasaan itu pada dasarnya bersifat konkret, besarannya konstan, sumbernya homogen dan tidak berkaitan dengan persoalan legitimasi. Berbeda hal dengan masyarakat Barat, dimana kekuasaan itu bersifat abstrak dan berasal dari berbagai sumber, seperti uang, harta kekayaan, fisik, kedudukan,asal-usul, dan lain sebagainya.

 

Referensi lain:

1)      Kartodirdjo, Sartono. 1977. Masyarakat Kuno Dan Kelompok-Kelompok Sosial. Jakarta: Bhratara Karya Aksara

2)      Interaksi Antarsuku Bangsa Dalam Masyarakat Majemuk; oleh Departemen Pendidkan Dan Kebudayaan; Direktorat Sejarah Dan Nilai Tradisional ; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi; Sejarah Nasional; Jakarta (1989)

3)      Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana

4)      Ata Ujan, Andrea. Molan, Benjamin, dkk. 2009. Multikulturalisme : Belajar hidup Bersama dalam Perbedaan. Jakarta: PT. Indeks

5)      Barth, Fredrik. 1988. Kelompok Etnik dan Batasannya. Jakarta: UI-Press

6)      Salim, Agus. 2006. Stratifikasi Etnik: Kajian Mikro Sosiologi (Interaksi Etnis Jawa dan Cina). Semarang: Tiara Wacana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s